Gen Z Tidak Lagi Menonton Televisi, Mereka Hidup di Media Sosial: Saatnya Kita Merangkul, Bukan Menjauh [KH.Akhmad Alim]

Generasi Z tidak lagi menjadikan televisi sebagai sumber utama informasi. Mereka tumbuh dalam ekosistem digital yang didominasi oleh media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan X. Di ruang digital itulah mereka belajar, berdiskusi, mencari hiburan, bahkan membentuk cara pandang terhadap agama, politik, dan kehidupan. Akibatnya, arus informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan proses verifikasi. Di era post-truth, emosi, opini, dan konten yang viral sering kali lebih berpengaruh daripada fakta yang sebenarnya.

Kondisi ini tidak boleh disikapi dengan menyalahkan Generasi Z. Mereka bukan generasi yang anti-ilmu, melainkan generasi yang memiliki cara berbeda dalam memperoleh informasi. Karena itu, pendekatan dakwah dan pendidikan juga harus berubah. Jika Gen Z berada di media sosial, maka ulama, pesantren, akademisi, dan tokoh umat juga harus hadir di sana dengan konten yang mencerahkan, argumentatif, dan relevan. Jangan biarkan ruang digital dikuasai oleh provokasi, hoaks, ujaran kebencian, dan paham-paham yang menyesatkan.

Pesantren memiliki modal yang sangat besar untuk menjawab tantangan ini. Tradisi keilmuan yang kuat, sanad keilmuan yang otoritatif, serta pendidikan akhlak yang menjadi ciri khas pesantren perlu dikemas dalam bahasa digital yang mudah dipahami oleh Generasi Z. Dakwah tidak cukup hanya dilakukan di mimbar-mimbar masjid atau ruang kelas, tetapi juga harus hadir melalui video pendek, podcast, infografis, dan berbagai platform media sosial yang menjadi ruang interaksi generasi muda.

Dengan demikian, strategi membina Generasi Z bukanlah menarik mereka keluar dari dunia digital, melainkan menghadirkan nilai-nilai Islam yang autentik ke dalam ruang digital tersebut. Kita tidak boleh meninggalkan media sosial kepada pihak-pihak yang menyebarkan disinformasi dan polarisasi. Sebaliknya, kita harus merangkul Generasi Z dengan literasi digital, keteladanan, dialog yang terbuka, dan dakwah yang penuh hikmah. Dari sinilah pesantren dapat memainkan peran strategis sebagai benteng moral sekaligus pusat transformasi peradaban digital yang berlandaskan Al-Qur’an, Sunnah, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *