Pendidikan anak usia dini merupakan tahap fundamental dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Masa usia dini dikenal sebagai golden age, yaitu periode penting ketika berbagai aspek perkembangan anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, baik aspek kognitif, bahasa, sosial emosional, spiritual, maupun fisik-motorik. Oleh karena itu, proses pendidikan pada tahap ini perlu dirancang secara menyeluruh dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan perkembangan anak. Salah satu bentuk pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sejak dini adalah pendidikan tahfidz Al-Qur’an. Pendidikan tahfidz tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana dalam mengembangkan berbagai potensi anak melalui kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan sesuai dengan tahap perkembangan usia dini.
Lembaga Pendidikan Tahfidz Anak Usia Dini Ibnu Jauzi merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki perhatian terhadap pembentukan generasi Qur’ani sejak usia dini. Dalam pelaksanaan pembelajaran tahfidz, anak tidak hanya diarahkan untuk menguasai hafalan Al-Qur’an, tetapi juga diberikan stimulasi yang mendukung perkembangan fisik dan motoriknya. Hal ini penting karena kemampuan motorik menjadi salah satu dasar bagi anak dalam melakukan berbagai aktivitas pembelajaran maupun aktivitas kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tahfidz yang dikemas dengan metode yang menyenangkan, melibatkan gerakan, permainan edukatif, aktivitas kreativitas, dan pembiasaan mandiri dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak.
Perkembangan motorik pada anak usia dini terbagi menjadi dua aspek utama, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar merupakan kemampuan anak dalam mengendalikan gerakan tubuh yang melibatkan otot-otot besar, seperti berjalan, berlari, melompat, menjaga keseimbangan, melempar, menangkap, dan mengayuh sepeda. Sementara itu, motorik halus merupakan kemampuan anak dalam mengoordinasikan gerakan otot-otot kecil, khususnya jari tangan, yang digunakan dalam aktivitas seperti menulis, menggambar, menggunting, memegang alat tulis, membuka halaman mushaf, dan melakukan berbagai keterampilan sehari-hari. Kedua aspek perkembangan tersebut memiliki keterkaitan dengan proses pembelajaran tahfidz karena aktivitas menghafal Al-Qur’an pada anak usia dini membutuhkan kemampuan konsentrasi, koordinasi tubuh, serta keterampilan melakukan aktivitas pendukung pembelajaran.
Berdasarkan perkembangan anak usia prasekolah sebagaimana dijelaskan dalam Tabel 2.7, anak usia 3–6 tahun mengalami perkembangan kemampuan motorik secara bertahap sesuai dengan tingkat kematangan fisik dan stimulasi yang diberikan. Pada usia 3–4 tahun, anak mulai menunjukkan perkembangan motorik kasar seperti kemampuan berjalan naik turun tangga, berdiri dengan satu kaki, melompat, berputar, serta mengayuh sepeda roda tiga. Dalam konteks pendidikan tahfidz di Lembaga Pendidikan Tahfidz Anak Usia Dini Ibnu Jauzi, kemampuan tersebut dapat distimulasi melalui kegiatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas gerak, seperti hafalan dengan gerakan, permainan edukatif Islami, dan aktivitas kelompok yang melatih keseimbangan serta koordinasi tubuh anak. Pada aspek motorik halus, anak usia 3–4 tahun mulai mampu melakukan aktivitas seperti melepas dan mengancingkan baju, makan sendiri, menggunakan gunting, serta menggambar bentuk sederhana. Kemampuan tersebut mendukung kegiatan pembelajaran tahfidz, seperti memegang mushaf, membuka halaman Al-Qur’an, mengikuti tulisan huruf hijaiyah, dan membuat karya kreatif bertema Islami.
Pada usia 4–5 tahun, perkembangan motorik anak mengalami peningkatan yang lebih kompleks. Anak mulai mampu melakukan aktivitas motorik kasar seperti naik turun tangga tanpa pegangan, berjalan dengan ritme kaki yang lebih baik, memutar tubuh, melempar dan menangkap bola, serta mengendarai sepeda roda tiga dengan lebih luwes. Pada tahap ini, pembelajaran tahfidz dapat dikembangkan melalui berbagai metode yang lebih variatif, seperti hafalan kelompok, permainan mengingat ayat, dan aktivitas pembelajaran berbasis gerakan. Metode tersebut tidak hanya membantu meningkatkan kemampuan hafalan anak, tetapi juga memberikan stimulasi terhadap kemampuan koordinasi dan pengendalian tubuh. Sementara itu, perkembangan motorik halus anak usia 4–5 tahun terlihat dari kemampuan menggunakan sendok dan garpu dengan baik, menggunting mengikuti garis, serta menirukan bentuk gambar sederhana seperti segitiga. Dalam pembelajaran tahfidz, kemampuan ini dapat diarahkan melalui kegiatan menulis huruf hijaiyah, menyalin ayat pendek, membuat kartu hafalan, serta menyusun media pembelajaran Al-Qur’an.
Selanjutnya, pada usia 5–6 tahun, kemampuan motorik anak semakin berkembang menuju tahap yang lebih matang. Perkembangan motorik kasar terlihat dari kemampuan anak melempar bola dengan jarak yang lebih jauh, menangkap bola dengan cekatan, serta mengendarai sepeda dengan berbagai variasi gerakan. Dalam pembelajaran tahfidz, anak pada usia ini sudah mulai mampu mengikuti kegiatan hafalan secara lebih mandiri, melakukan muroja’ah bersama, tampil menyetorkan hafalan, serta mengikuti kegiatan kelompok yang membutuhkan kerja sama dan kepercayaan diri. Adapun perkembangan motorik halus ditunjukkan melalui kemampuan menggunakan pisau untuk memotong makanan lunak, mengikat tali sepatu, serta menggambar manusia dengan bagian tubuh yang lebih lengkap. Kemampuan tersebut mendukung kegiatan pembelajaran seperti menulis ayat pendek, menghias lembar hafalan, membuat karya seni Islami, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa pembelajaran tahfidz Al-Qur’an pada anak usia dini memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh. Pendidikan tahfidz yang diterapkan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik anak tidak hanya menghasilkan kemampuan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memberikan stimulasi terhadap perkembangan fisik-motorik, kemandirian, kreativitas, dan pembentukan karakter Islami. Lembaga Pendidikan Tahfidz Anak Usia Dini Ibnu Jauzi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan kebutuhan perkembangan anak. Dengan demikian, optimalisasi perkembangan motorik melalui pembelajaran tahfidz menjadi salah satu upaya strategis dalam membangun generasi Qur’ani yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, kemampuan intelektual, keterampilan fisik, dan akhlak yang baik.